Masjid Raya Baitul Khairaat Jadi Saksi Pembentukan Benteng Moral Pendidikan Sulteng
HUMAS UPTD.BLPT
10 April 2026 41 x BERITA DINAS
PALU - Suasana khidmat dan penuh kekhusyukan menyelimuti selasar Masjid Raya Baitul Khairaat di Palu, Sulawesi Tengah, sejak Rabu hingga Jumat (8–10 April 2026). Selama tiga hari tersebut, puluhan kepala SMA dan SMK dari berbagai wilayah di Sulawesi Tengah mengikuti Retreat Gelombang Keenam, khusus untuk kepala sekolah memasuki gelombang kedua dengan menetap di masjid ikonik tersebut.
Kegiatan ini bukan sekadar pelatihan manajerial biasa. Para kepala sekolah menjalani rangkaian aktivitas yang mengintegrasikan pendidikan kepemimpinan dengan amalan keagamaan sehari-hari, seperti melaksanakan shalat berjamaah lima waktu, mengikuti taklim atau pengajian, zikir bersama, makan secara berjamaah, serta mempererat silaturahmi antarsesama pemimpin pendidikan.
Pemilihan Masjid Raya Baitul Khairaat sebagai lokasi retreat merupakan arahan langsung dari Gubernur Sulawesi Tengah, Dr. H. Anwar Hafid, M.Si., sebagai bagian dari upaya mewujudkan visi 'Berani Berkah'. Gubernur menekankan bahwa masjid bukan hanya tempat ibadah, melainkan pusat keberkahan yang dapat menjadi fondasi pembentukan karakter dan akhlak generasi muda. Melalui pendekatan ini, pendidikan diharapkan tidak hanya mengejar kecerdasan intelektual, tetapi juga ketangguhan moral dan spiritual.
Langkah Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Tengah memindahkan ruang kelas manajerial ke rumah ibadah ini memiliki makna mendalam. Alih-alih hanya berfokus pada aspek administratif, kegiatan retreat ini sengaja dirancang untuk memperkuat dimensi moral dan spiritual para pemimpin pendidikan, sekaligus membangun 'benteng moral' di lingkungan sekolah di tengah berbagai tantangan karakter yang dihadapi generasi muda saat ini.
Darurat Karakter Remaja Menjadi Perhatian Utama
Dalam arahannya, Kepala Dinas Pendidikan Sulawesi Tengah, Drs. H. Firmanza DP, SH., M.Si., menegaskan pentingnya Program '9 Berani' yang digagas pemerintah provinsi, khususnya pilar 'Sulteng Berjamaah' dan 'Sulteng Mengaji'. Menurutnya, sekolah harus berfungsi sebagai ruang aman yang mendidik sekaligus melindungi siswa dari berbagai ancaman sosial.
Firmanza menyebut empat masalah utama yang kini menjadi 'darurat karakter' di kalangan remaja Sulawesi Tengah: penyalahgunaan narkoba, peredaran obat-obatan daftar G, seks bebas, serta perundungan (bullying) di lingkungan sekolah. Pendekatan yang hanya mengandalkan sanksi administratif dinilai sudah tidak memadai lagi.
“Masjid Raya Baitul Khairaat ini menjadi saksi komitmen kita bersama. Kepala sekolah harus pasang badan dan membuka telinga lebar-lebar. Edukasi mengenai bahaya narkoba dan seks bebas tidak boleh lagi dianggap tabu, melainkan menjadi kebutuhan mendesak untuk menyelamatkan generasi Sulawesi Tengah,” tegas Firmanza.
Ia menambahkan bahwa integrasi nilai-nilai spiritual melalui program 'Sulteng Mengaji' diharapkan dapat menyentuh sisi kemanusiaan siswa, menumbuhkan empati, serta meminimalisir perilaku menyimpang. Pendekatan ini sejalan dengan visi 'Berani Berkah yang digelorakan Gubernur Anwar Hafid, di mana pendidikan menjadi pondasi utama bagi Sulawesi Tengah yang maju secara material sekaligus kuat secara spiritual.
Transformasi Kepemimpinan melalui Kontemplasi
Pemilihan lokasi di masjid, sesuai arahan Gubernur, sengaja dirancang untuk memberikan ruang kontemplasi bagi para kepala sekolah di tengah rutinitas administrasi yang semakin berat. Firmanza meyakini, jika pemimpin pendidikan memiliki ketenangan batin dan kedalaman spiritual, kebijakan yang diambil di tingkat sekolah akan lebih bijaksana dan benar-benar berpihak pada perlindungan anak didik.
“Jika pemimpinnya sudah selesai dengan urusan moral dan spiritualnya, maka penanaman nilai-nilai kebaikan di sekolah akan berjalan secara organik, bukan sekadar instruksi formalitas semata,” ujarnya.
Melalui retreat ini, para kepala sekolah diharapkan dapat menyusun rencana aksi konkret di satuan pendidikannya masing-masing. Beberapa langkah yang diusulkan antara lain penguatan fungsi bimbingan konseling, pembentukan mekanisme pengawasan lingkungan sekolah yang lebih efektif, serta integrasi materi pendidikan karakter ke dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari.
Dengan semangat “Sulteng Berjamaah” dan “Sulteng Mengaji”, kegiatan retreat Gelombang Keenam di Masjid Raya Baitul Khairaat ini menjadi momentum penting untuk mengembalikan marwah pendidikan sebagai benteng utama peradaban di Bumi Seribu Megalit.
Pendidikan, pada hakikatnya, bukan hanya tentang transfer pengetahuan, melainkan juga pembentukan karakter. Ketika pemimpin pendidikan mau merendah diri di rumah ibadah sesuai arahan Gubernur, diharapkan akan lahir generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga berakhlak mulia dan tangguh menghadapi tantangan zaman.


