Mulai 1 September, SMKN 1 Poso Terapkan Pembatasan Penggunaan Gawai untuk Dukung Fokus Belajar Siswa
SMK Negeri 1 Poso
01 September 2026 34 x KAB. POSO
Pengorganisasian dan pendataan gawai siswa oleh wali kelas.”
Poso, 1 September 2026 — SMK Negeri 1 Poso mulai menerapkan pembiasaan pembatasan penggunaan gawai di lingkungan sekolah sebagai tindak lanjut Surat Edaran Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 18 Tahun 2026. Kebijakan tersebut mengatur pembatasan penggunaan gawai di satuan pendidikan dengan tujuan menciptakan lingkungan belajar yang lebih fokus sekaligus melindungi peserta didik dari berbagai risiko penggunaan teknologi yang tidak terkontrol.
Penerapan pembatasan gawai di SMKN 1 Poso dilakukan melalui mekanisme pengumpulan gawai pada awal kegiatan sekolah. Setiap pagi saat peserta didik tiba di sekolah, wali kelas mengumpulkan gawai siswa untuk sementara waktu. Dalam kondisi tertentu, guru dapat membantu wali kelas melakukan pengumpulan, khususnya pada saat pembelajaran pertama berlangsung. Gawai yang telah dikumpulkan ditempatkan di keranjang yang telah disediakan untuk masing-masing kelas.
Setelah dikumpulkan, seluruh gawai untuk sementara disimpan di ruangan khusus yang berada dalam pengawasan guru dan memiliki akses terbatas. Mekanisme tersebut diterapkan sebagai bagian dari tata tertib dan prosedur pembiasaan agar penggunaan gawai selama jam sekolah dapat lebih terarah.
Namun demikian, kebijakan ini tidak berarti melarang peserta didik membawa ataupun menggunakan gawai secara keseluruhan. Gawai tetap dapat digunakan apabila diperlukan untuk kepentingan pembelajaran atas izin dan arahan guru. Apabila seorang guru mata pelajaran membutuhkan gawai dalam proses pembelajaran, guru yang bersangkutan bertanggung jawab mengambil keranjang gawai kelas yang akan digunakan, kemudian mengembalikannya setelah kegiatan pembelajaran selesai.
Selain untuk kepentingan pembelajaran, penggunaan gawai juga tetap dimungkinkan dalam kondisi tertentu, seperti keadaan darurat, kebutuhan medis, aksesibilitas bagi peserta didik penyandang disabilitas, maupun keperluan transportasi.
Kepala SMKN 1 Poso menjelaskan bahwa penerapan pembatasan penggunaan gawai ini untuk tahap awal akan diberlakukan selama satu bulan. Masa tersebut akan menjadi periode pembiasaan sekaligus evaluasi untuk melihat efektivitas mekanisme yang diterapkan dan menentukan prosedur yang paling tepat untuk terus dikembangkan di lingkungan sekolah.
“Pembiasaan ini akan kita terapkan selama satu bulan, kemudian akan kita evaluasi bersama bagaimana prosedur yang paling tepat untuk terus diterapkan di SMKN 1 Poso. Karena itu, kami sangat mengharapkan kolaborasi dari seluruh tenaga pendidik untuk bersama-sama mengawasi dan mendukung agar program ini dapat berjalan dengan baik.”
Penerapan kebijakan ini pada dasarnya diarahkan untuk membantu peserta didik lebih fokus mengikuti kegiatan pembelajaran. Selain itu, pembatasan penggunaan gawai menjadi salah satu langkah preventif untuk melindungi murid dari risiko penggunaan teknologi secara berlebihan, termasuk adiksi digital, paparan konten negatif, risiko keamanan siber, serta kekerasan yang terjadi melalui ruang digital.
Meski demikian, pembatasan penggunaan gawai tetap perlu berjalan beriringan dengan edukasi dan literasi digital. Peserta didik tidak hanya diarahkan untuk mengurangi penggunaan gawai, tetapi juga diberikan pemahaman mengenai etika bermedia digital serta bagaimana memanfaatkan teknologi secara bijaksana, aman, dan bertanggung jawab.
Keberhasilan pembiasaan ini tentunya membutuhkan keterlibatan seluruh warga sekolah. Guru memiliki peran dalam mengawasi pelaksanaan di lingkungan sekolah, sementara orang tua dan wali murid diharapkan turut memberikan pendampingan di rumah. Kolaborasi tersebut penting agar kebiasaan menggunakan teknologi secara sehat tidak hanya diterapkan selama berada di sekolah, tetapi juga menjadi bagian dari keseharian peserta didik.
Pada hari pertama penerapan pembatasan penggunaan gawai, terlihat perubahan suasana di lingkungan sekolah. Para siswa tampak lebih banyak berinteraksi dan terlibat dalam berbagai aktivitas bersama yang sejenak mengalihkan perhatian mereka dari penggunaan gawai secara individual. Saat jam istirahat, tawa dan cerita antarsiswa terdengar memenuhi selasar gedung, menciptakan suasana yang lebih hidup dan interaktif.
Dengan penerapan pembatasan ini, SMKN 1 Poso berharap tercipta keseimbangan antara pemanfaatan teknologi dan fokus belajar. Gawai tetap menjadi bagian dari kehidupan dan pembelajaran peserta didik, tetapi penggunaannya diharapkan semakin tepat guna, sesuai kebutuhan, serta tidak mengganggu proses pendidikan dan perkembangan karakter siswa.(AMP)







